Berita PJA

Berita PJA
Pusri Jurnalistik Award

Berita PJA

Berita PJA
Pusri Jurnalistik Award

Sabtu, 17 April 2010

Juara II, Chamdan Purwoko dan Aprika R Hernanda

Chamdan Purwoko dan Aprika R Hernanda

PT Pusri Mencari Napas Baru” dimuat di Harian Bisnis Indonesia, 25 Oktober 2009

Aprika Rani Hernanda
Tempat, tanggal lahir: Yogyakarta, 8 September 1980
Alamat rumah: Apartemen Salemba Residence #2108 Jl. Salemba Tengah II No. 10 Jakarta Pusat Pendidikan terakhir: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada
Pekerjaan: Wartawan
Alamat kantor: Bisnis Indonesia
Wisma Bisnis Indonesia Lt.7 Jl. KH Mas Mansyur 12A Karet Tengsin Jakarta Pusat
Jabatan: Desk Editor Agribisnis


Boni, Juara Pertama

Boni Dwi Pramudyanto


Naskah No 41, ”Pusri, Setengah Abad Mendampingi Musi” dimuat di Harian Kompas, tanggal 17 Maret 2010 Total Nilai 430

Biodata:

Nama : Boni Dwi Pramudyanto
Tempat, Tanggal Lahir : Pekalongan, 28 Februari 1980
Pendidikan : - SMA Pangudi Luhur Van Lith
- Universitas Sanata Dharma, Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Yogyakarta
Domisili : Jalan Angkatan 45 Nomor H 28, Kota Palembang

Keluarga
Istri : Indrastuti
Anak : Renata Pranindra Tristania
Nama Orang Tua : FX Wiratmoko dan F Sri Widiyanti
Kakak : G Agung Nawa Prasetya
Adik : C Tri Yudo Prananto
Karir Jurnalistik
-Pekerjaan : Wartawan Harian Kompas
-Mulai bekerja : Tahun 2004
-Penempatan : 2004-2006 Bertugas di Yogyakarta
2006-2007 Bertugas di Madiun
2007-sekarang Bertugas di Palembang

Pengalaman jurnalistik:

*Peliput Ekspedisi Bengawan Solo digelar Harian Kompas tahun 2007
*Peliput Ekspedisi Jelajah Musi digelar Harian Kompas tahun 2010
*Tim peliput bencana nasional gempa bumi di DI Yogyakarta
*Meliput uji coba pembangunan pelabuhan
*Meliput program pertukaran tenaga kerja Indonesia di Macau

Pusri Berikan Apresiasi kepada Jurnalis

Wartawan Kompas Juara Pusri Jurnalistik Award


Setengah abad PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) telah mengabdi bagi negeri. Tepatnya pada 24 Desember 2009, genap 50 tahun Pusri turut mewarnai dan memberikan kontribusi untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan.
Dalam perjalanan selama ini, media massa memberikan sumbangsih yang tak sedikit bagi perkembangan perusahaan penghasil pupuk terbesar di Asean ini. Pada peringatan ulang tahun emas ini, Pusri mencoba memberikan apresiasi terhadap media massa. Khususnya melalui hajatan penghargaan Pusri Jurnalistik Award (PJA) .
Dalam PJA kali ini setidaknya ada 55 naskah yang diterima oleh panitia penyelenggara namun hanya 42 naskah yang bisa dinilai. Pengumpulan naskah ini dilakukan sejak bulan Januari sampai bulan Maret 2010. Materi tulisan sesuai dengan tema dan subtema yang ditentukan dan materi tulisan yang dimuat di media, bukan merupakan press release maupun liputan event.
“Media yang ikut cukup beragam baik dari majalah, koran dan media online,”kata Ida Syahrul panitia pelaksana dari Media Lintas Informasi (MLI), Jumat (16/4).
Lebih lanjut, Ida mengatakan peserta PJA kali ini diikuti oleh jurnalis dari Sumatra dan Jawa, isu yang dominan menjadi perhatian jurnalis adalah soal ketersediaan gas untuk pabrik pusri lalu soal peranan pusri dalam keberlangsungan ketahanan pangan di Indonesia, permasalahan revitalisasi, serta kemitraan Pusri
Ketua Dewan Juri Mahmud Husen dari Kementrian BUMN mengatakan cukup surprise dengan banyaknya naskah yang masuk. Sebab dalam waktu singkat hanya sebulan saja panitia membuka pengumuman untuk lomba penulisan ini respon jurnalis cukup positif.
“Ini membuktikan bahwa Pusri cukup dekat tidak hanya di kalangan petani, tetapi juga dikenal terbuka dengan kalangan pers,”katanya.


Pemenang Pusri Jurnalistik Award sebagai berikut:



Pertama, peserta nomor naskah 41 dengan judul ”Pusri, Setengah Abad Mendampingi Musi” dimuat di Harian Kompas, tanggal 17 Maret 2010 oleh Boni Dwi Pramudyanto, sebagai Juara I dengan total nilai 430;




Kedua, peserta nomor naskah 013 dengan judul ”PT Pusri, Mencari Napas Baru” dimuat di Harian Bisnis Indonesia, 25 Oktober 2009 oleh Chamdan Purwoko dan Aprika R Hernanda, sebagai Juara II, dengan total nilai 417;



Ketiga, peserta nomor naskah 025 dengan judul ”Baru Setahun Dibina PT Pusri, Usahanya Berkembang” dimuat di Beritamusi.Com, oleh Taufik Wijaya, Sabtu, 13 Maret 2010, sebagai juara III, dengan total nilai 411;

Keempat, peserta nomor naskah 002 dengan judul ”Menanti Keseriusan Pemerintah Merevitalisasi Pusri” dimuat di Harian Sumsel Post, 17 Februari 2010 oleh Syarif Umar, sebagai juara IV, dengan total nilai 405;





Kelima, peserta naskah 029 dengan judul ”Penantian Industri Pupuk Nasional” dimuat di Harian Sriwijaya Post, Sabtu, 13 Maret 2010 oleh Arsep Pajario, sebagai juara V, dengan total nilai 404;



Keenam, peserta nomor naskah 018 dengan judul ”Sampah Itu Sungguh Berarti: Pusri Pelopor Industri Pupuk Organik” dimuat di Harian Sriwijaya Post, Rabu, 10 Maret 2010 oleh Lisma Noviani sebagai juara VI, dengan total nilai 401.
(rel)

Kamis, 08 April 2010

Pupuk Naik, Petani Untung

Sinar Harapan, Kamis, 08 April 2010 13:15

Mentan: Pupuk Naik, Petani Tetap Untung

Bandar Lampung – Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengklaim kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi akan tetap menguntungkan petani
Ini dapat terjadi karena harga pembelian peme¬rintah (HPP) untuk gabah dan beras telah dinaikkan 10 persen sejak Januari lalu. Dijadwalkan, kenaikan HET pupuk akan diberlakukan mu¬lai Juni mendatang, dengan kisaran tidak lebih dari 50 persen.
“Kami mendapat informasi dari organisasi petani kenaikan sebesar itu tidak akan membe¬ratkan petani,” kata Sus¬¬wono usai meresmikan Kantor Pelayanan Karantina Per¬tanian Kelas 1 Bandar Lam¬pung Wilayah Kerja Bakau¬heni, Rabu (7/4) siang.
Bahkan, menurut Mentan, dengan kenaikan HET pupuk sebesar 50 persen, petani masih bisa memperoleh keuntungan Rp 1,2 juta per hektare. Soalnya, dari kenaikan harga tersebut, petani hanya membutuhkan tambahan biaya operasional untuk pupuk sekitar Rp 200.000 per hektare. “Jadi, kenaikan ini tidak akan memberatkan petani,” katanya meyakinkan.
Perkiraan penetapan ke¬¬nai¬¬kan HET pupuk tersebut, lanjut dia, sesuai usulan Kementerian Pertanian untuk menambah alokasi anggaran subsidi pupuk senilai Rp 4,2 triliun kepada DPR RI.
Mentan mengatakan, de¬ngan kenaikan HET yang akan diberlakukan tersebut memberikan peluang Kementerian Pertanian untuk menambah subsidi pupuk. Saat ini, menurut dia, Kementerian Pertanian sedang melakukan uji coba penyaluran pupuk secara langsung. Untuk sementara ini, itu baru dilakukan di Kabupaten Kerawang, Jawa Barat, sebagai salah satu daerah sentra beras di Indonesia.
(syafnijal datuk sinaro)

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/back_to/indeks-lalu/read/mentan-pupuk-naik-petani-tetap-untung/?tx_ttnews[years]=2010&tx_ttnews[months]=04&tx_ttnews[days]=8&cHash=1ed844de91

Rabu, 17 Maret 2010

PJA Diperpanjang

Pemuatan naskah yang semula hanya sebatas 15 Maret 2010 di perpanjang hingga 20 Maret 2010. Sampai saat ini tercatat 54 naskah yang masuk ke panitia. Namun berdasarkan seleksi awal, hanya 41 yang bisa diteruskan ke tim juri. Salam, MLI

Minggu, 14 Maret 2010

Holding Pupuk Terbentuk

Sinar Harapan, Sabtu, 30 Januari 2010 11:10


Perusahaan ”Holding” Pupuk Segera Terbentuk

Jakarta - Dalam rangka revitalisasi industri pupuk nasional, pemerintah mengaku sudah merampungkan konsep holding untuk lima pabrik pupuk pelat merah.
Langkah selanjutnya pemerintah tinggal memutuskan format holding yang akan digunakan.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar mengatakan, ada dua alternatif yang masih dalam pembahasan intensif untuk segera diputuskan. Alternatif pertama dibentuk perusahaan holding baru yang membawahi kelima pabrik pupuk BUMN. “Sedangkan alternatif kedua, Pusri (PT Pupuk Sriwijaya-red) akan menjadi holding. Pabriknya akan di-spin off, sehingga ia akan membawahi lima pabrik pupuk yang ada,” jelas Mustafa di Kantornya, Jakarta, Jumat (29/1).
Kendati soal ini masih dikaji oleh komite kebijakan publik, namun dari aspek legalitas, menurut Mustafa format yang paling mudah dilakukan adalah alternatif kedua. Ini karena tidak terlalu banyak yang harus dilakukan selain pembenahan secara menyeluruh.
Sekadar informasi, sesungguhnya, pembentukan holding BUMN pupuk tersebut sudah dilakukan ketika Kementerian BUMN di bawah Menteri BUMN Sugiharto. Sejak saat itu yang bertindak sebagai holding atau induk usaha adalah PT Pusri. “Dulu itu holding-holdingan karena haram hukumnya jika anak usaha bertindak sebagai induk,” kata Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu.
Saat ini holding yang dimaksud adalah holding sesungguhnya dengan konsep yang profesional dan sesuai peraturan. “Kami minta di-holding secara penuh. Kalau sudah selesai, nanti manajemennya akan kita refresh, karena hampir semua sudah akan habis masa jabatannya,” tandas Mustafa.
Awalnya, Kementerian BUMN optimistis pembentukan holding BUMN bakal rampung di akhir tahun lalu. Namun, masih ada sejumlah hal yang menjadi ganjalan. Selain belum satu visi, masalah pajak yang juga jadi persoalan yang cukup krusial. Pajak yang menjadi masalah atas pembentukan holding industri pupuk berupa pajak pengalihan aset dan pajak pengalihan tenaga kerja.

Bentuk Perusahaan Baru
Terkait dengan masalah pajak, sebelumnya Direktur Utama Pusri Holding Dadang Kodri, memiliki pendapat yang berbeda dengan Mustafa. Menurut Dadang, dari kedua opsi tersebut, perusahaan pupuk lebih memilih membentuk perusahaan baru sebagai holding. “Karena tidak menimbulkan konsekuensi pada pajak,” tuturnya.
Jika usulan mengambil opsi new company disetujui, ia memperkirakan holding pupuk akan terealisasi sepenuhnya pada semester pertama tahun depan. Dengan terbentuknya holding pupuk yang membawahi lima pabrik pupuk di antaranya PT Pusri, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Pupuk Kujang, PT Petro Kimia Gresik dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), maka aset holding diperkirakan bisa mencapai Rp 34 triliun. Aset PT Pusri saat ini mencapai Rp 14 triliun. (cr-7)

Kamis, 11 Maret 2010

Urea Bisa Jadi Bom

Awas, Pupuk Urea Bisa Jadi Bom
Laporan wartawan KOMPAS Herpin Dewanto Putro
Jumat, 7 Agustus 2009 | 13:31 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Pupuk urea ternyata dapat dijadikan bahan untuk membuat bom. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada jika di lingkungannya mendapati penggunaan pupuk urea yang mencurigakan.
Hal itu disampaikan Panglima Komando Daerah IV Mayor Jenderal Hariyadi Soetanto, Jumat (7/8) di Semarang. "Kami sudah menyebarkan pengetahuan tentang pupuk urea itu kepada masyarakat," kata Hariyadi.
Menurut Hariyadi, dengan mengetahui berbagai bahan yang dapat dirakit menjadi bom, masyarakat semakin peka untuk mengawasi lingkungannya. Hariyadi menilai, kejadian bom JW Marriott-Ritz Carlton terjadi karena ketidakpekaan satuan pengaman. Pelaku membawa bahan-bahan peledak yang tidak terdeteksi sebagai bom kemudian dirakit menjadi bom dan diledakkan di dalam hotel.
"Jika ada seseorang yang memiliki banyak bahan seperti pupuk urea dalam jumlah besar dan barang itu tidak ada kaitannya dengan profesi pemiliknya, maka orang itu patut dicurigai," kata Hariyadi.